Swamedikasi Acne Vulgaris

SWAMEDIKASI ACNE VULGARIS

Terapi Swamedikasi – Swamedikasi Acne Vulgaris

DEFINISI

  • Acne vulgaris (jerawat) adalah penyakit kulit akibat peradangan kronis yang disebabkan oleh aktivitas berlebihan dari bakteri sebagai berikut: Propionibacterium acne, Staphylococcus epidermis, dan Staphylococcus aureus
  • Jerawat ditandai oleh kondisi abnormal kulit yang terjadi akibat gangguan berlebihan produksi kelenjar minyak sehingga menyebabkan penyumbatan saluran folikel rambut dan pori-pori kulit
  • Perkembangan seks sekunder pada masa pubertas diakibatkan oleh perubahan sistem hormonal tubuh. Perubahan hormonal ini akan menyebabkan terjadinya peningkatan produksi minyak tubuh dan aktivitas kelenjar keringat, sehingga menyebabkan penyumbatan saluran folikel rambut dan pori-pori kulit dan berkembang menjadi jerawat.
  • Acne vulgaris ditandai dengan adanya lesi yang bervariasi meliputi komedo, papul, pustul, dan nodul. Sering kali meskipun acne vulgaris dapat sembuh sendiri, namun perjalanan penyakitnya menimbulkan jaringan parut pada wajah.
  • Pemicu timbulnya jerawat antara lain genetik, aktivitas hormonal pada siklus menstruasi, stres, aktivitas kelenjar sebasea yang hiperaktif, kebersihan, makanan, dan penggunaan kosmetik.
  • Sebuah riset yang melibatkan 50 orang remaja penderita jerawat melaporkan bahwa penderita cenderung memiliki citra diri dan kualitas hidup yang buruk, serta mengalami masalah kepercayaan diri.

KLASIFIKASI

Ada 3 tipe jenis jerawat yang sering dijumpai, yaitu komedo, jerawat biasa atau klasik, dan Cystic acne (jerawat batu atau jerawat jagung). Komedo adalah pori-pori yang tersumbat, bisa terbuka atau tertutup. Flek adalah kumpulan pigmen alami atau melanin yang berisi melanosome. Flek dapat terlihat sebagai bintik-bintik pada kulit wajah yang tidak timbul dan menyebar merata. Oleh sebab itu, komedo berbeda dengan flek. Pada kasus jerawat yang berat, lesi akan menonjol dan meninggalkan jaringan parut. Jerawat batu terjadi karena faktor genetik dimana seseorang memiliki banyak kelenjar minyak sehingga pertumbuhan sel-sel kulit tidak normal dan tidak dapat mengalami regenerasi secepat kulit normal.

EPIDEMIOLOGI

Insiden jerawat 80-100% terjadi pada usia dewasa muda yaitu umur 14-17 tahun pada wanita dan 16-19 tahun pada pria. Prevalensi tertinggi yaitu pada umur 16-17 tahun dimana pada wanita berkisar 83-85% dan pada pria berkisar 95-100%. Dari survey di kawasan Asia Tenggara terdapat 40-80% kasus jerawat. Di Indonesia, catatan kelompok studi dermatologi kosmetika Indonesia menunjukkan terdapat 60% penderita jerawat pada tahun 2006 dan 80% pada tahun 2007.

Acne secara primer merupakan penyakit yang diderita pada usia dewasa muda, dengan 85% remaja dipengaruhi oleh beberapa derajat keparahan. Jerawat sering terjadi pada kaum remaja/pubertas (usia 15-19 tahun pada wanita dan 17-21 tahun pada pria) akibat peningkatan produksi hormon seks, tetapi kadang-kadang terjadi pada anak-anak dan wanita dewasa dalam masa menstruasi. Ketika acne dimulai pada usia 8-12 tahun, komedo sebagai karakteristik utamanya mengenai bagian dahi dan pipi. Angka kejadian acne vulgaris di Indonesia diperkirakan kurang lebih 15 juta penduduk dengan usia antara 13-40 tahun.

Acne vulgaris umumnya terjadi pada usia pubertas. Pada perempuan acne vulgaris dapat menjadi tanda pertama pubertas dan dapat terjadi satu tahun sebelum menarche (haid pertama). Insiden acne vulgaris kemudian menurun seiring bertambahnya usia, namun dapat juga menetap pada usia dekade ketiga atau lebih.

PENYEBAB

Terdapat beberapa faktor utama yang berperan dalam patogenesis acne vulgaris, yaitu:

  • Stres dan hormon dapat memperbesar kemungkinan infeksi jerawat karena menyebabkan kulit memproduksi minyak yang merupakan tempat berkembangbiaknya bakteri. Jerawat dapat timbul karena adanya peningkatan hormon androgen yang beredar dalam darah yang dapat menyebabkan hiperplasia dan hipertrofi dari glandula sebasea, bukan karena ketidakseimbangan hormon.
  • Rokok juga menjadi pemicu berlebihnya kelenjar minyak/sebum. Komponen sebum berupa trigliserida dan lipoperoxidase memainkan peranan penting dalam patogenesis acne. Trigliserida dipecah menjadi asam lemak bebas atau free fatty acid (FFA) oleh P. acnes, yang merupakan flora normal folikel sebasea. Asam lemak tersebut kemudian mendorong terjadinya kolonisasi P. acnes. Bakteri P. acnes yang menginfeksi bisa dari waslap, kuas make-up, jari tangan, juga telepon.
  • Lipoperoksidase menghasilkan sitokin proinflamasi dan mengaktivasi jalur peroxisome proliferator-activated reseptor (PPAR), yang menghasilkan peningkatan sebum.
  • Saluran keluar kelenjar sebasea yang menyempit (hiperkeratosis) akibat radiasi sinar ultraviolet, sinar matahari, atau sinar radio aktif dapat menyebabkan terjadinya jerawat
  • Rambut yang kotor, terutama kulit kepala berminyak, akan mengenai wajah dan memindahkan minyak dan kotorannya ke kulit wajah.
  • Virus, moisturizer/pelembab, konsumsi kacang, dan vitamin bukan merupakan faktor penyebab timbulnya jerawat.

MEKANISME TERJADINYA PENYAKIT

Acne terjadi ketika lubang kecil dipermukaan kulit yang disebut pori-pori tersumbat. Secara normal, kelenjar minyak membantu melumasi kulit dan menyingkirkan sel kulit mati. Namun, ketika kelenjar tersebut menghasilkan minyak yang berlebihan, pori-pori menjadi tersumbat oleh penumpukan kotoran dan bakteri. Penyumbatan ini disebut sebagai komedo. Pembentukan komedo dimulai dari bagian tengah folikel akibat masuknya bahan keratin sehingga dinding folikel menjadi tipis dan menggelembung. Secara bertahap akan terjadi penumpukan keratin sehingga dinding folikel menjadi bertambah tipis dan dilatasi. Pada waktu yang bersamaan, kelenjar sebasea menjadi atropi dan diganti dengan sel epitel yang tidak berdiferensiasi. Komedo yang telah terbentuk sempurna mempunyai dinding yang tipis. Komedo terbuka (blackheads) mempunyai keratin yang tersusun dalam bentuk lamelar yang konsentris dengan rambut pusatnya dan jarang mengalami inflamasi kecuali bila terkena trauma. Komedo tertutup (whiteheads) mempunyai keratin yang tidak padat, lubang folikelnya sempit dan sumber timbulnya lesi yang inflamasi.

Pada awalnya lemak keluar melalui dinding komedo yang bengkak dan kemudian timbul reaksi seluler pada dermis, ketika pecah seluruh isi komedo masuk ke dalam dermis yang menimbulkan reaksi lebih hebat dan terdapat sel raksasa sebagai akibat keluarnya bahan keratin. Pada infiltrat ditemukan bakteri difteroid gram positif dengan bentukan khas Proprionibacterium acnes diluar dan didalam lekosit. Lesi yang nampak sebagai pustul, nodul, dengan nodul diatasnya, tergantung letak dan luasnya inflamasi. Selanjutnya kontraksi jaringan fibrus yang terbentuk dapat menimbulkan jaringan parut.


Bagan Mekanisme Terjadinya Penyakit

GEJALA DAN TANDA

Jerawat dapat timbul di muka, bahu, dada bagian atas, dan punggung bagian atas, lengan atas. Selain itu juga, tempat pembentukan jerawat terdapat di bagian dada bagian atas dan punggung disebabkan karena daerah tersebut kaya akan 114 kelenjar sebasea. Jerawat tidak timbul di lengan bawah, dada bawah, pinggang, dan tungkai bawah.

Manifestasi klinis acne dapat berupa lesi non inflamasi (komedo terbuka dan komedo tertutup), lesi inflamasi (papul dan pustul) dan lesi inflamasi dalam (nodul).

Komedo

Komedo adalah tanda awal dari acne. Sering muncul 1-2 tahun sebelum pubertas.9 Komedogenic adalah proses deskuamasi korneosit folikel dalam duktus folikel sebasea mengakibatkan terbentuknya mikrokomedo (mikroskopik komedo) yang merupakan inti dari patogenesis acne. Mikrokomedo berkembang menjadi lesi non inflamasi yaitu komedo terbuka dan komedo tertutup atau dapat juga berkembang menjadi lesi inflamasi2

  • Komedo terbuka, Disebut juga blackhead secara klinis dijumpai lesi berwarna hitam berdiameter 0,1-3 mm, biasanya berkembang waktu beberapa minggu. Puncak komedo berwarna hitam disebabkan permukaan lemaknya mengalami oksidasi dan akibat pengaruh melamin
  • Komedo tertutup , Disebut juga whitehead secara klinis dijumpai lesinya kecil dan jelas berdiameter 0,1-3 mm, komedo jenis inidisebabkan oleh sel-sel kulit mati dan kelenjar minyak yang berlebihan pada kulit. Secara berkala pada kulit terjadi penumpukan sel-sel kulit mati, minyak dipermukaan kulit kemudian menutup sel-sel kulit dan terjadilah sumbatan 

    Gambar 1. Komedo

Jerawat Biasa

Jerawat jenis ini mudah dikenal, tonjolan kecil berwarna pink atau kemerahan. Terjadi karena terinfeksi dengan bakteri. Bakteri ini terdapat dipermukaan kulit, dapat juga dari waslap, kuas make up, jari tangan juga telepon. Stres, hormon dan udara lembab dapat memperbesar kemungkinan infeksi jerawat karena kulit memproduksi minyak yang merupakan perkembangbiakannya bakteri berkumpul pada salah satu bagian muka.

  • Papula, Penonjolan padat diatas permukaan kulit akibat reaksi radang, berbatas tegas dan berukuran diameter <5mm. Papul superfisial sembuh dalam 5-10 hari dengan sedikit jaringan parut tetapi dapat terjadi hiperpigmentasi pasca inflamasi terutama remaja dengan kulit yang berwarna gelap. Papul yang lebih dalam penyembuhannya memerlukan waktu yang lebih lama dan dapat meninggalkan jaringan parut 

    Gambar 2. Papula
  • Pustula, Pustul acne vulgaris merupakan papul dengan puncak berupa pus. Letak pustula bisa dalam ataupun superfisial. Pustula lebih jarang dijumpai dibandingkan papula dan pustula yang dalam sering dijumpai pada acne vulgaris yang parah. 

    Gambar 3. Pustula
  • Nodul, Nodul pada acne vulgaris merupakan lesi radang dengan diameter 1 cm atau lebih, disertai dengan nyeri. 

    Gambar 4. Nodul

Cystic Acne/jerawat kista (jerawat batu)

Acne yang besar dengan tonjolan-tonjolan yang meradang hebat, berkumpul diseluruh muka. Penonjolan diatas permukaan kulit berupa kantong yang berisi cairan serosa atau setengah padat atau padat. Kista jarang terjadi, bila terbentuk berdiameter bisa mencapai beberapa sentimeter. Jika diaspirasi dengan jarum besar akan didapati material kental berupa krem berwarna kuning. Lesi dapa menyatu menyebabkan terbentuknya sinus, terjadi nekrosis dan peradangan granulomatous. Keadaan ini sering disebut acne konglobata. Penderita ini biasanya juga memiliki keluarga dekat yang juga menderita acne yang serupa.

Gambar 5. Cystic Acne

Parut jaringan ikat yang menggantikan epidermis dan dermis yang sudah hilang. Sering disebabkan lesi nodulokistik yang mengalami peradangan yang besar. Ada beberapa bentuk jaringan parut, antara lain:

  • Ice-pick scar merupakan jaringan parut depresi dengan bentuk ireguler terutama pada wajah
  • Fibrosis perifolikuler ditandai dengan cincin kuning di sekitar folikel

Jaringan parut hipertrofik atau keloid, sering terdapat didada, punggung, garis rahang (jaw line) dan telinga, lebih sering ditemukan pada orang berkulit gelap

KOMPLIKASI

Komplikasi yang berhubungan dengan jerawat mencakup pembentukan parut dan dampak psikososial negatif.

Komplikasi akut jerawat yaitu eritema pasca inflamasi atau hiperpigmentasi. Komplikasi ini seringkali terlihat seperti jaringan parut, tetapi sebenarnya merupakan sisa proses inflamasi yang memudar seiring waktu. Pemencetan lesi dapat memperberat erupsi yang telah terjadi.

Jaringan parut sejatinya merupakan komplikasi kronik jerawat yang parah atau tidak terobati dengan baik. Risiko terbentuknya jaringan parut lebih tinggi pada jerawat yang lebih parah dan bertambah dengan pemencetan jerawat.

ALGORITMA SWAMEDIKASI

FAKTOR YANG MEMPERPARAH JERAWAT

Terdapat beberapa faktor yang memperparah jerawat antara lain:

  1. Jerawat mekanik. Iritasi lokal atau gesekan dari pakaian yang ketat, bando, helm atau alat-alat yang menimbulkan friksi kontak yang berlebihan antara wajah dan tangan, seperti mengistirahatkan dagu atau pipi di tangan
  2. Jerawat karena faktor pekerjaan. Terpajan kotoran, minyak goreng yang menguap, atau bahan kimia industri tertentu, seperti tar batubara, dan turunan minyak bumi
  3. Obat-obatan. Beberapa obat diketahui dapat memperparah jerawat : fenitoin, isoniazid, fenobarbital. Litium, etionamid, steroid, azatioprin, rifampin, kuinin
  4. Stress dan emosional berlebihan. Dapat menginduksi ekspresi modulator neuroendokrin, yang memainkan peran pada stress diinduksi sentral dan topikal pada kelenjar sebasea
  5. Lingkungan dengan kelembaban tinggi dan keringat berlebihan. Berkurangnya ukuran lubang kelenjar sebasea karena hidrasi sehingga mencegah lepasnya komedo
  6. Perubahan hormonal. Peningkatan kadar androgen disebabkan oleh medis, kehamilan atau obat-obatan

TERAPI SWAMEDIKASI FARMAKOLOGI DAN RESEP

Pengobatan tanpa resep (swamedikasi) untuk jerawat berperan dalam menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat dengan suatu zat antibakteri misalnya benzoil peroksida, sulfur, asam salisilat, resorsinol dan asam alfa-hidroksi.

Benzoil peroksida 2.5-10%

Benzoil peroksida merupakan salah satu obat golongan antimikroba non antibiotik. Mekanisme kerja benzoil peroksida dapat diuraikan oleh sistem pada kulit sehingga dapat membebaskan radikal bebas oksigen yang akan mengoksida protein bakteri. Obat ini dapat memberikan efek bakterisidal dengan menghasilkan radikal bebas yang mengoksidasi protein dalam membran sel bakteri, sehingga dapat mengurangi P.acnes. Obat ini juga bersifat keratolitik karena kemampuannya mengurangi hiperkeratosis folikel.

Benzoil peroksida dapat digunakan dengan mengoles lapisan tipis pada seluruh daerah yang berjerawat sebanyak 1-2 kali sehari sampai terdapat pengelupasan ringan.

Untuk meminimalkan iritasi, benzoil peroksida tidak boleh digunakan selama 15-20 menit setelah mencuci daerah yang terkena dengan pembersih ringan.

Peringatan dan kontraindikasi :

  • Produk benzoil peroksida dapat menyebabkan pemutihan pada pakaian, handuk, dan seprei. Pasien harus menghindari tercecernya produk tersebut pada rambut atau kain
  • Pasien bisa mengalami eritema ringan, rasa menyengat dan pengelupasan kulit selama beberapa hari pertama penggunaan benzoil peroksida. Namun efek tersebut bisa hilang dalam 1 hingga 2 minggu. Untuk membantu mengurangi iritasi, penderita harus mengaplikasikannya di kulit pertama kali hanya selama 15 menit, kemudian mencucinya.
  • Penggunaan benzoil peroksida di dekat mata, mulut, bibir, dan hidung sera daerah dekat luka, goresan, dan lecet harus dilakukan dengan hati-hati karena bisa menyebabkan iritasi.
  • Produk ini bisa menyebabkan peningkatan sensitivitas terhadap sinar matahari. Penderita harus menghindari paparan sinar matahari secara langsungdengan menggunakan tabir surya non komedogenik dengan SPF 15 atau lebih tinggi jika berada di luar ruangan. Penggunaan produk ini harus dihentikan jika terjadi eritema dan vesikulasi secara mendadak.

Asam salisilat 0.5 – 2%

Obat ini bekerja sebagai agen komedolitik dan keratolitik ringan. Namun, obat ini dianggap kurang efektif dibandingkan benzoil peroksida. Asam salisilat biasanya ditambahkan pada banyak pembersih wajah dan sabun tubuh.

Peringatan dan kontraindikasi :

  • Produk ini dikontraindikasikan pada pasien penderita diabetes dan sirkulasi darah yang buruk.
  • Produk ini harus diaplikasikan hanya pada area yang terkena. Penggunaan dalam jangka waktu yang lama dan diarea yang besar dapat menyebabkan keracunan dengan tanda seperti mual, muntah, pusing, tuli, tinnitus, lesu, diare dan gangguan psikis.
  • Produk ini dapat menyebabkan peningkatan sensitivitas terhadap sinar matahari. Pasien harus menghindari paparan sinar matahari secara langsung.

Sulfur presipitat 3-10%

Obat ini biasanya ditambahkan ke dalam produk jerawat sebagai keratolitik dan antibakterial pada konsentrasi 3-10%. Produk yang mengandung sulfur diaplikasikan berupa lapisan tipis ke daerah yang terkena sebanyak satu hingga tiga kali sehari. Dengan penggunaan kontinue, produk ini memberikan efek komedogenik.

Resorsinol 2-3%

Produk ini dapat dikombinasikan dengan sulfur untuk meningkatkan efek sulfur. Kombinasi kedua produk ini berfungsi sebagai keratolitik, membantu perkembangan pergantian sel dan deskuamasi. Resorsinol dapat menimbulkan sisik yang reversibel dan berwarna coklat gelap pada beberapa individu yang berkulit gelap.

Asam alfa-hidroksi

Produk ini dapat digunakan sebagai pengelupas kulit alami, biasanya terdapat pada tebu, produk susu dan buah-buahan. Produk ini tersedia dalam berbagai formulasi obat tanpa resep pada konsentrasi 4% hingga 10%.

Terapi jerawat dengan resep.

Seseorang yang mengalami jerawat yang berhubungan dengan fluktuasi atau peningkatan hormon androgen, dapat merasakan manfaat dari penggunakan terapi resep yaitu dengan terapi hormonal sistemik seperti kontrasepsi oral. Jika terdapat infeksi P.acnes, maka penderita juga dapat diberikan terapi resep antibiotik topikal seperti klindamisin. Tentunya, penderita harus konsultasi ke dokter terkait penggunaan obat jerawat menggunakan resep antibiotik dan hormonal.

TERAPI SWAMEDIKASI NON FARMAKOLOGI

Terapi non farmakologi jerawat yaitu mencuci wajah secara tepat, tidak memencet jerawat, hindari stress, memperbaiki pola makan dan gaya hidup. Berikut informasi terkait terapi non farmakologi untuk swamedikasi jerawat sebagai berikut :

  • Buah mahkota dewa yang masih hijau dicuci hingga bersih, kemudian diparut. Dan hasil parutan dapat langsung ditempelkan diwajah yang berjerawat sebagai masker.
  • Minyak pohon teh dikenal secara luas memiliki sifat antibakteri. Minyak pohon the dapat bekerja dengan menggangu membran sitoplasma Stapylococcus aureus dan melemahkan kemampuan sel untuk melawan agen sitosidal lainnya. Ampas teh juga mengandung polifenol bisa menghambat pembentukan lemak menjadi asam lemak sehingga mencegah kandungan minyak berlebih dan iritasi sehingga mampu mencegah timbulnya jerawat
  • Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan dari pemanfaatan madu dan air perasan jeruk nipis terhadap penyembuhan jerawat. Pengujian lanjutan dengan uji Duncan menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dari keempat perlakuan yang berbeda, yang dapat dilihat dari indikator warna, bentuk, volume dan jumlah jerawat dengan pemakaian terbaik pada kelompok pemanfaatan air perasan jeruk nipis (X3) dan kelompok pemanfaatan madu + air perasan jeruk nipis (X4) satu kali sehari selama enam hari
  • Penambahan kayu manis dan madu diterima baik oleh konsumen karena dirasa paling baik menurut sifat organoleptik acne lotion dan kecepatan dalam penyamaran noda jerawat
  • Ekstrak etilasetat daun sirih hijau mengandung senyawa antibakteri yang terdiri dari senyawa fenol dan turunannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat memiliki aktivitas antibakteri terhadap S.epidermidis dalam kategori sedang-kuat.

PENCEGAHAN

Menghindari peningkatan jumlah sebum dan perubahan isi sebum dengan cara :

  • Diet rendah lemak dan karbohidrat.
  • Minum air putih minimal 8 gelas sehari, dengan air putih yang cukup kulit akan lebih elastis dan metabolisme tubuh menjadi lancar dan normal dan detokfikasi tubuh dari dalam keluar
  • Melakukan perawatan kulit.
  • Mandi sesegera mungkin setelah aktifitas berkeringat.
  • Frekuensi mencuci wajah yang direkomendasikan adalah 2 kali sehari. Semakin sering mencuci wajah tidak menghasilkan perbaikan bermakna pada acne vulgaris. Jangan mencuci muka berlebihan dengan sabun (6-8 kali sehari) karena dapat menyebabkan acne detergen. Namun bila hanya mencuci wajah 1 kali sehari akan menyebabkan perburukan pada acne vulgaris.
  • Dapat juga menggunakan cairan cleanser, tetapi hindari menggunakan scrub yang malah dapat mengiritasi kulit dan dapat memperparah acne.
  • Hindari pemakaian antiseptik atau medicated soap yang sering mengakibatkan kulit menjadi iritasi

Menghindari faktor pemicu terjadinya acne seperti hidup teratur dan sehat, cukup istirahat, olahraga sesuai kondisi tubuh dan penggunaan kosmetika secukupnya ( bersihkan kuas kosmetika secara teratur dengan air sabun dan membuang alat make up yang sudah lama dan hindari bahan kosmetika yang berminyak, tabir surya, produk pembentuk rambut atau penutup jerawat).

Pentingnya menggunakan tabir surya yang bertujuan melindungi kulit dari sinar matahari juga penting untuk mencegah timbulnya noda hitam lain selain bekas jerawat.Menjauhi terpacunya kelenjar minyak, misalkan minuman keras, rokok,polusi debu,lingkungan yang tidak sehat dan sebagainya

Hindari penusukan, pemencetan lesi, mencongkel dan sebagainya karena dapat menyebabkan infeksi, menimbulkan bekas, memperparah acne dan bahkan membuat kesembuhan lebih lama.

TINDAK LANJUT SWAMEDIKASI

Perbaikan kondisi dinilai dari penurunan baik jumlah maupun keparahan lesi. Jika perbaikan tampak jelas, maka dapat dilakukan tindak lanjut bulanan untuk melakukan penyesuaian dosis yang diperlukan pada terapi pemeliharan. Jika jerawat pada pasien tidak menunjukkan perbaikan setelah 6 minggu swamedikasi, maka harus berkonsultasi ke dokter medis atau dokter kulit. Selama pengobatan, penderita harus disiplin untuk melaksanakan regimen pengobatan yang ditentukan. Kriteria penderita jerawat yang harus dirujuk ke dokter adalah sebagai berikut :

  1. Jika 6 minggu tidak ada perbaikan gejala
  2. Jika kondisi jerawat parah (jerawat sedang dengan kista berisi nanah, jerawat menyebar ke bahu dan punggung serta menimbulkan bekas luka)
  3. Jika pengobatan jerawat tidak berhasil
  4. Jika dicurigai jerawat timbul karena obat.

Artikel : https://gbeeglowindonesia.com/sav
Sumber : https://edupharmindo.com/swamedikasi-acne-vulgaris-jerawat/

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *